ARSITEKTUR DAN PERILAKU
(Mengacu Pada Buku
Joyce Marcella Laurens; dengan judul sama;
BAB I)
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa
arsitektur tidak bisa lepas dari perilaku manusia. Hal ini disebabkan karena
pada akhirnya desain produk arsitek akan di gunakan oleh manusia, bukan hanya
semata-mata untuk keindahan saja. Bahkan desain yang baik juga akan membentuk
pola kebiasaan user.
Perilaku adalah sebuah respon atau
reaksi seseorang terhadap stimulus atau
atau rangsangan dari luar(Skiner).
Yaitu kenyataan bahwa semua manusia menanggapi dan beradaptasi terhadap ling
kunganya, baik kondisi alam (iklim, musim, cucaca) maupun lingkungan sosial
(keluarga, rt, rw, dll). Tentu saja
setiap manhusia yang inggal di
tempat yang berbeda lingkungan hidupnya akan memiliki pola pikir yang
berbeda-beda dan akan sangat tidak tepat apabila sebuah desain untuk lingkungan
A diterapkan di lingkungan B.
Sedangakn perilaku sendiri pada garis besarnya dipengaruhi oleh kebiasaan mental dan sikap seseorang yang di pengaruhi oleh lingkungan fisiknya. Dimana suatau lingkungan yang baik akan membentuk suatu sikap dan mental yang baik dan akhirnya akan berperilaku dengan baik juga. Sedangkan erilaku sendiri dibentuk melalui dua hal dasar yaitu secara natural (Nature) dan secara pembelajaran dan motivasi (Nurture). Nah disinilah tugas seorang arsitek yaitu menciptakan lingkungan yang harmonis dengan nilai guna dan keindahan serta dapat membentuk pola kebiasaan masyarakat kearah yang lebih baik.
Adapun pengertian desain sendiri
adalah pola rancangan yang menjadi dasar pembuatan suatu benda. Dilihat aspek
perilaku desain dikelompoakan menjadi dua. Desain yang mendukung perilaku.
Yaitu desain yang keberadaan akan menambah penekanan terhadap asumsi dan
perilaku manusia yang sudah ada tanpa mengurangi nilai fungsional dari benda
tersebut. Misalnya saja sebuah kursi dengan ukiran-ukiran yang indah akan
melengkapi keindahan dan kesan mewah sebuah ruangan tanpa mengurangi nilai guna
kursi tersebut. Yang kedua adalah desain yang mnghambat suatu perilaku. Adalah
desain yang keberadaan tidak sesuai dengan asumsi pengguna. Misalnya saja
sebuah bangunan dengan dinding full kaca tapa ada penanda pada bagian pintu.
Memang akan menimbulkan kesan luas tetapi tidak jarang akan meluaki pengguna
karena terbentur.
Seorang arsitek dalam membuat desain
hendaklah memperhatikan hal hal berikut
ini :
+ Asumsi-asumsi kebutuhan manusia.
+ Membuat
perkiraan aktivitas user.
+
Memperhatikan bagaimana pola lingkungan masyarakat di sekitar pengguna.
+ Memutuskan
bagaimana lingkungan desain dapat melayani pemakai sebaik mungkin.
+Memastikan bahwa desain akan berguna
dan tidak mubasir.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar