Sabtu, 17 Mei 2014

ARSITEKTUR DAN PERILAKU



ARSITEKTUR DAN PERILAKU
(Mengacu Pada Buku Joyce Marcella Laurens; dengan judul sama;  BAB I)

                                Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa arsitektur tidak bisa lepas dari perilaku manusia. Hal ini disebabkan karena pada akhirnya desain produk arsitek akan di gunakan oleh manusia, bukan hanya semata-mata untuk keindahan saja. Bahkan desain yang baik juga akan membentuk pola kebiasaan user.
                               Perilaku adalah sebuah respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau  atau rangsangan dari luar(Skiner). Yaitu kenyataan bahwa semua manusia menanggapi dan beradaptasi terhadap ling kunganya, baik kondisi alam (iklim, musim, cucaca) maupun lingkungan sosial (keluarga, rt, rw, dll). Tentu saja  setiap manhusia  yang inggal di tempat yang berbeda lingkungan hidupnya akan memiliki pola pikir yang berbeda-beda dan akan sangat tidak tepat apabila sebuah desain untuk lingkungan A diterapkan di  lingkungan B.

                                Sedangakn perilaku sendiri pada garis besarnya dipengaruhi oleh kebiasaan mental dan sikap seseorang yang di pengaruhi oleh lingkungan fisiknya. Dimana suatau lingkungan yang baik akan membentuk suatu sikap dan mental yang baik dan akhirnya  akan berperilaku dengan baik juga.  Sedangkan erilaku sendiri dibentuk melalui dua hal dasar yaitu secara  natural (Nature) dan secara pembelajaran dan motivasi (Nurture). Nah disinilah tugas seorang arsitek yaitu menciptakan lingkungan yang harmonis dengan nilai guna dan keindahan serta dapat membentuk pola kebiasaan masyarakat kearah yang lebih baik.
                                Adapun pengertian desain sendiri adalah pola rancangan yang menjadi dasar pembuatan suatu benda. Dilihat aspek perilaku desain dikelompoakan menjadi dua. Desain yang mendukung perilaku. Yaitu desain yang keberadaan akan menambah penekanan terhadap asumsi dan perilaku manusia yang sudah ada tanpa mengurangi nilai fungsional dari benda tersebut. Misalnya saja sebuah kursi dengan ukiran-ukiran yang indah akan melengkapi keindahan dan kesan mewah sebuah ruangan tanpa mengurangi nilai guna kursi tersebut. Yang kedua adalah desain yang mnghambat suatu perilaku. Adalah desain yang keberadaan tidak sesuai dengan asumsi pengguna. Misalnya saja sebuah bangunan dengan dinding full kaca tapa ada penanda pada bagian pintu.  Memang akan menimbulkan kesan luas tetapi tidak jarang akan meluaki pengguna karena terbentur.
                                Seorang arsitek dalam membuat desain hendaklah memperhatikan hal hal  berikut ini :
                                + Asumsi-asumsi kebutuhan manusia.
                                + Membuat perkiraan aktivitas user.
                                + Memperhatikan bagaimana pola lingkungan masyarakat di sekitar pengguna.
        + Memutuskan bagaimana lingkungan desain dapat melayani pemakai sebaik mungkin.
                                +Memastikan bahwa desain akan berguna dan tidak mubasir.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar